NGERTI SAKDURUNGE WERUH…membaca masa depan



Falsafah Jawa ini kalo diterjemahkan secara harfiah artinya “mengerti sebelum melihat”. Dalam kosakata arab kita juga mengenal kata bashirah, ataupun firasat.

Saya terkenang falsafah ini dan tetarik untuk menuliskannya, karena hari-hari ini media kita dipenuhi dengan quick count dari para pollster. Bahkan pas H-3, H-2, sampai H-1 pileg 2009 media kita juga memaparkan hasil survey, terlepas apakah itu suatu bentuk kampanye ataupun propaganda dari sponsor , terlihat betapa hasil survey itu terbukti.

Ngerti sakdurunge weruh untuk pileg ini dilakukan dengan metode statistik tertentu, bersifat kuantitatif. Entah berapa caleg yang stress, bingung, atau bahkan kaget karena ternyata lolos (misal caleg dari PD yang tidak pernah kampanye). Tentu hal ini tidak akan terjadi bagi para caleg yang menjadikan proses ini sebagai ibadah, takkan ada yang sia-sia.

Ngerti sakdurunge weruh adalah kemampuan membaca masa depan.

Jika para pollster menggunakan statistik, proses ngerti sakdurunge weruh yang saya fahami selama ini umumnya menggunakan intuisi, sense, dzauq. Menggunakan kecerdasan hati. Sejatinya statistik juga, namun tidak berdasarkan rumus-rumus tertentu, tetapi cenderung bersifat kualitatif berdasarkan pola-pola tertentu yang difahami berdasarkan pengalaman ataupun pengetahuan.

Apalah lagi sejarah sesungguhnya proses kejadian yang berulang, ada hukum sebab-akibat, sehingga memang seharusnya kita bisa membaca apa yang akan terjadi pada masa depan dengan membaca sejarah kemarin.

Jika dikaitkan dengan teori kecerdasan saya cenderung melihat proses ini sebagai hasil dari kecerdasan hati atau Heart Inteligence yang berasal dari integrated multiple intelligence, yaitu keterpaduan antara kecerdasan berganda dengan intuisi dan pengalaman.

Belajar dari kasus survey sebelum hari H pileg, bisa jadi proses ini adalah sebuah proses “mengarahkan pikiran” sesuai dengan keinginan mereka, seperti teori konspirasi.

Banyak orang percaya bahwa serangan AS terhadap Irak, Afganistan sebenarnya telah diputuskan jauh-jauh hari. Buku Clash of civilization dari Samuel Huntington telah membuat sintesanya, bahwa musuh peradaban barat setelah komunis adalah Islam. So, kita harus hati-hati dengan buku ataupun agenda-agenda yang bersifat ngerti sakdurunge weruh seperti ini.

Kemampuan untuk ngerti sakdurunge weruh ini haruslah menjadi life skill yang kita kuasai, apatah lagi banyak ayat Al Qur’an dan Hadits yang berbicara tentang sejarah, tentang apa yang akan terjadi pada masa depan, tentang hukum akibat, dan petunjuk-petunjuk untuk memiliki ketajaman spiritual, meraih kecerdasan hati.

Tentu saja sebagai sebuah proses berpikir, falsafah ini hasilnya bisa salah bisa benar…karena tak siapapun manusia tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, bisanya sekedar memprediksi.